Minggu, 05 Juni 2011

Dampak Secara Fisik Penyalahgunaan Narkoba


Dampak penyalahgunaan Narkoba
Bila narkoba digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran yang telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan. Kecanduan inilah yang akan mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya kerusakan pada sistem syaraf pusat (SSP) dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal.
Dampak penyalahgunaan narkoba pada seseorang sangat tergantung pada jenis narkoba yang dipakai, kepribadian pemakai dan situasi atau kondisi pemakai. Secara umum, dampak kecanduan narkoba dapat terlihat pada fisik, psikis maupun sosial seseorang.
Dampak Fisik:
1. Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi
2. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah
3. Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim
4. Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru
5. Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur
6. Dampak terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan padaendokrin, seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual
7. Dampak terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lain perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid)
8. Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya
9. Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi Over Dosis yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over dosis bisa menyebabkan kematian

Kombinasi Home Formula (HF) berperan sebagai Obat Narkoba untuk pengobatan kecanduan narkoba. Obat Narkoba ini tidak hanya bekerja untuk mengobati sistem kelenjar syaraf namun obat narkoba ini juga bekerja untuk mengobati organ tubuh. Obat Narkoba ini merupakan hasil penemuan Prof.Dr.Diana Mossop dari Inggris. Obat Narkoba ini sebaiknya digunakan selama minimal 3 bulan pengobatan untuk pemulihan sistem syaraf dan organ tubuh. Pada bulan pertama dan kedua, Obat Narkoba ini bekerja dengan mengeluarkan racun-racun yang mengendap pada batang otak dan organ ; pada bulan ketiga, Obat Narkoba ini bekerja dengan memperbaiki sel-sel yang mengalami kerusakan.  

Sabtu, 04 Juni 2011

3,3 Juta Penduduk Indonesia Pecandu Narkoba Sintetis

3,3 Juta Penduduk Indonesia Pecandu Narkoba Sintetis

Peredaran narkoba di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Saat ini pecandu narkoba di Indonesia diperkirakan mencapai 3,3 juta jiwa (1,99% dari jumlah penduduk). Narkoba yang digunakan umumnya jenis sintetis.

Hal itu diungkapkan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Gories Mere pada puncak peringatan Hari Antinarkotika Internasional 2010 di Silang Monas, Jakarta, yang dibuka Wakil Presiden Boediono.

Menurut Gories, perkiraan pecandu narkoba itu berdasarkan survei BNN pada 2008. Dari 3,3 juta itu, 2 juta pecandu bukan pelajar/mahasiswa, sisanya 1,3 juta pelajar/mahasiswa.

“Usia pecandu berkisar 13-49 tahun. Tetapi jumlah pecandu paling banyak berusia 29 tahun atau usia produktif. Hal ini karena mereka sudah memiliki penghasilan sendiri,” tegas Gories.

Meski jumlah pecandu kian bertambah, optimisme memberantas peredaran narkoba dan menyembuhkan para pecandu tetap saja ada.
Karena, kecanduan narkoba bukan tidak bisa disembuhkan. Bila sudah terjerat narkoba, langkah terbaik adalah melakukan terapi dan rehabilitasi. Saat ini ada 365 tempat rehabilitasi di 178 lokasi.

Pengungkapan kasus pada 2009-2010 menunjukkan ada peningkatan kasus amfetamin seperti sabu dan ekstasi, yakni 30%.
Sebaliknya penggunaan heroin dan kokain mengalami penurunan. Kasus heroin turun 42,5% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Penanggulangan peredaran narkoba di Indonesia dipersulit karena barang bukti juga rawan dijual kembali oleh aparat. Ada kasus pegawai Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) LIPI menjual 1,9 ton bahan baku narkoba.

Ada pula jaksa dan polisi yang diduga menjual barang bukti atau menerima suap dari bandar narkoba. Belum lagi ada 490.802 pil ekstasi yang raib dalam perkara narkoba kasus Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu. Barang bukti senilai Rp49 miliar itu raib hingga hari ini.


Kombinasi Home Formula (HF) berperan sebagai Obat Narkoba untuk pengobatan kecanduan narkoba. Obat Narkoba ini tidak hanya bekerja untuk mengobati sistem kelenjar syaraf namun obat narkoba ini juga bekerja untuk mengobati organ tubuh. Obat Narkoba ini merupakan hasil penemuan Prof.Dr.Diana Mossop dari Inggris. Obat Narkoba ini sebaiknya digunakan selama minimal 3 bulan pengobatan untuk pemulihan sistem syaraf dan organ tubuh. Pada bulan pertama dan kedua, Obat Narkoba ini bekerja dengan mengeluarkan racun-racun yang mengendap pada batang otak dan organ ; pada bulan ketiga, Obat Narkoba ini bekerja dengan memperbaiki sel-sel yang mengalami kerusakan.  
 

Terapi Pecandu Kelas Berat

Ernaldi Bahar (Erba), satu-satunya rumah sakit umum (RSU) yang menyediakan tempat rehabilitasi bagi pecandu narkoba. Tak hanya rujukan dari ponpes Ar-Rahman, tapi juga pusat terapi lainnya. Umumnya, pasien di RSU Erba, kategori pecandu berat alias menderita dual diagnosa. "Dual diagnosa itu, gangguan jiwa akibat narkoba. Juga mengalami sugesti berlebih," ungkap  Direktur RSU Ernaldi Bahar dr Latifah SpKj kepada Sumatera Ekspres di ruang kerjanya.
    Menurut beliau, pengobatan pasien pecandu narkoba di rumah sakit yang ia pimpin menggunakan dua metode terapi yaitu psikoparmasi (obat-obatan) dan psikoterapi. Maksud, psikoparmasi yaitu terapi dengan memberikan obat-obatan kepada pasien yang kecanduan narkoba.
    Caranya? Kata Latifah, sang pasien diberikan obat yang berfungsi sebagai subsititusi heroin (narkoba). "Diberikan, secara oral (lewat mulut, red)," terang Latifah. Biasanya, mereka yang diobati dengan psikoparmasi tersebut yaitu pasien yang menderita dual diagnosa tadi.
     Sedangkan pasien yang tidak menderita dual diagnosa, yaitu baru tahap kecanduan narkoba dapat diobati dengan psikoterapi.
    Psikoterapi sendiri adalah metode pengobatan pasien dari kecanduan narkoba dengan mengarahkan sang pasien mengenai dampak atau bahaya mengonsumsi narkoba. "Kita kasih tahu apa kerugian dari menggunakan narkoba. Harapannya, mereka tidak lagi menggunakan," ungkap Latifah.
    Untuk pasien yang tidak dual diagnosa tersebut, lanjutnya, pengobatan cukup dengan  berobat jalan.  Sayangnya, dengan alasan malu, tidak banyak pasien tersebut mau berobat jalan ke Ernaldi bahar. "Ya, akhirnya terkadang di rujuk ke Lido, Sukabumi," tukasnya.
     Selama rehabilitasi, sang pasien bakal menjalani program pengobatan seperti olahraga dan bekerja sesuai dengan kemauan. "Kalau dia mau berkebun, kita minta berkebun, kan kita ada lahannya," ungkap Latifah.
    Diharapkan dengan bekerja tadi, pikiran dan sugesti sang pasien bahwa menggunakan narkoba membuat mereka lebih baik menjadi berkurang. Bahkan, bisa hilang. Tapi, lanjutnya, selama menjalani rehabilitasi, si pasien juga diberi obat-obatan menggunakan sistem terapi subsitusi.
     Setidaknya, berdasarkan pengalaman sebelumnya, dibutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu bagi pasien untuk dapat sehat, kembali waras dan dapat menghilangkan sugesti penggunaan narkoba. "Nah, kalau sudah sehat, mereka boleh pulang, tinggal berobat jalan."
     Selama berobat jalan, sang pasien tadi terus diberi obat subsitusi heroin dengan dosis tertentu. Namun, lambat laun dosis tersebut terus dikurangi, sehingga akhirnya tidak diberikan sama sekali. "Ya, tujuannya untuk menghilangkan ketergantungan dari narkoba tadi," tukasnya. 


Kombinasi Home Formula (HF) berperan sebagai Obat Narkoba untuk pengobatan kecanduan narkoba. Obat Narkoba ini tidak hanya bekerja untuk mengobati sistem kelenjar syaraf namun obat narkoba ini juga bekerja untuk mengobati organ tubuh. Obat Narkoba ini merupakan hasil penemuan Prof.Dr.Diana Mossop dari Inggris. Obat Narkoba ini sebaiknya digunakan selama minimal 3 bulan pengobatan untuk pemulihan sistem syaraf dan organ tubuh. Pada bulan pertama dan kedua, Obat Narkoba ini bekerja dengan mengeluarkan racun-racun yang mengendap pada batang otak dan organ ; pada bulan ketiga, Obat Narkoba ini bekerja dengan memperbaiki sel-sel yang mengalami kerusakan.  

Rabu, 01 Juni 2011

Faktor Pertemanan Penyebab Kekambuhan Kecanduan NAZA


Pada persi, Jakarta - Unik memang, ternyata maraknya peredaran NAZA dan lemahnya penegakan hukum, bukan menjadi faktor terbesar kambuhnya pasien NAZA. Justru yang menjadi faktor terbesar kekambuhan pasien NAZA adalah faktor pertemanan (peer group). Hal ini merupakan intisari penelitian Prof DR Dr Dadang Hawari.

Disebutkan, dari 293 pasien kambuh yang diteliti, 171 diantaranya kambuh karena pengaruh dan bujukan teman. Kondisi ini terjadi akibat pasien kembali bergaul dengan teman-temannya sesama pemakai NAZA, atau bandarnya.

"Teman merupakan 80 persen penyebab awal seseorang menggunakan NAZA. Selanjutnya, dari teman itu pula suplai NAZA diperoleh. Dan teman pulalah penyebab kekambuhan terjadi," ungkap Prof Dadang.

Berbicara dalam "Seminar Manajemen Naza", di Auditorium RS MH Thamrin Internasional Salemba, Sabtu (17/3), Prof Dadang menyatakan, faktor sugesti atau craving/desire menjadi penyebab kedua kekambuhan pasien NAZA. Kondisi ini terjadi akibat pasien tak mampu lagi menahan keinginannya untuk memakai NAZA.

Faktor ketiga, ulas Prof Dadang, adalah faktor stress. Tercatat 54 pasien kembali kambuh akibat mengalami stres atau frustasi. Barulah setelah ketiga faktor tadi, tercantum faktor ketidakberdayaan aparat hukum dalam menyelesaikan kasus NAZA.

"Ringannya hukuman bagi pengedar maupun pengguna, juga adanya internal affair yang melibatkan oknum aparat, membuat peredaran NAZA begitu semerbak," cetus Prof Dadang. Akibat mudahnya memperoleh NAZA ini, potensi pemakai baru dan pemakai lama kambuhan menjadi sama besarnya. Keadaan ini merupakan ancaman nasional, baik dari sudut pandang keluarga maupun ketahanan negara.

Prof Dadang kemudian memberikan alternatif penyelesaian, yaitu;

  • Perlunya dibentuk institusi khusus bidang NAZA yang disegani dan berwibawa. Semacam DEA (Drugs Enforcement Agency) di Amerika Serikat.
  • Adanya Indonesian Drugs and Alcohol Watch. Merupakan LSM yang dapat memberikan tekanan kepada pemerintah.
  • Diusutnya aparat hukum yang melakukan kolusi NAZA.
  • Perlunya pendidikan dan penyuluhan sejak dini. Pendidikan ini dimulai dari rumah, sekolah/kampus, tempat kerja, dan masyarakat. Harus ditekankan, NAZA haram hukumnya baik dari sisi agama maupun UU Negara.
Penelitian Dadang Hawari juga menyebutkan, jumlah pasien NAZA di Indonesia pada tahun 1998 berjumlah 1,3 juta orang, dengan tingkat kematian 17,16 persen atau 223.080 jiwa. Yang dahsyat, omzet bisnis NAZA di Indonesia berkisar antara 130 miliar hingga 390 miliar setiap harinya. Luar biasa, dibandingkan dengan terpuruknya kondisi bangsa... 

Kombinasi Home Formula (HF) berperan sebagai Obat Narkoba untuk pengobatan kecanduan narkoba. Obat Narkoba ini tidak hanya bekerja untuk mengobati sistem kelenjar syaraf namun obat narkoba ini juga bekerja untuk mengobati organ tubuh. Obat Narkoba ini merupakan hasil penemuan Prof.Dr.Diana Mossop dari Inggris. Obat Narkoba ini sebaiknya digunakan selama minimal 3 bulan pengobatan untuk pemulihan sistem syaraf dan organ tubuh. Pada bulan pertama dan kedua, Obat Narkoba ini bekerja dengan mengeluarkan racun-racun yang mengendap pada batang otak dan organ ; pada bulan ketiga, Obat Narkoba ini bekerja dengan memperbaiki sel-sel yang mengalami kerusakan.  

Sabtu, 14 Mei 2011

Berobat dan Bertobat bagi Pecandu Narkoba


Jumlah pemakai narkoba di Indonesia ? 

Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan sekitar 4 juta orang yang mengkonsumsi barang haram ini. Jumlah ini termasuk didalamnya ganja, ekstasi, serta putaw. Itu yang terdata, sedangkan yang tidak terlihat seperti minuman keras dan rokok belum diketahui. Di Indonesia, setiap tahun 57 ribu orang mati karena rokok. Pemerintah acuh saja. Hal ini bertolak belakang dengan visi negara kita yang mencanangkan Indonesia Sehat 2010.
Itulah yang jadi kesulitan bangsa kita. Sebetulnya sih…. mudah, tapi karena sogokan uang jadi sulit untuk diberantas. 

Cara berhenti mengkonsumsi narkoba ? 

Semua penyakit ada obatnya, jika obatnya tepat melalui izin Allah bisa sembuh. Istilahnya berobat dan bertobat sebelum tertangkap. Caranya tanpa metode substitusi (tanpa zat pengganti -red). Sekarang banyak juga dokter yang mengganti zatnya dengan metadon atau subutex. Metadon isinya morphin atau heroin sintesa. Jadi sama saja tidak menyembuhkan. Jadi metode tersebut secara tidak langsung memindahkan bandar yang asalnya dari luar, sekarang bisa membeli dari dokter. Mengenai kasus ini belum ada tindakan tegas, karena yang melakukannya adalah dokter yang juga psikiater senior. Metode yang saya pakai tanpa substitusi sudah mendapat penghargaan dari pemerintah dan PBB. Namun, mereka belum mau menerapkannya. Proyek substitusi ini merupakan proyek gagal yang dilancarkan mafia kepada Australia dan Thailand. Prosesnya dilegalkan meski caranya sangat illegal. 

Terungkapnya pabrik ekstasi terbesar di Serang ? 

Sebetulnya hal ini telah diketahui sejak tujuh tahun silam. Selama ini orang bukannya tidak tahu. Buktinya ada di Mabes Polri yang mengetahui kasus ini, namun dengan upaya sogok kasus ini ditutup. Intinya ada orang dalam yang ikut bermain.
Saran bagi generasi muda ?
Dalil Al-Maidah ayat 90-91 ini harus disosalisasikan. Jelaskan pula bahwa hal itu hukumnya haram. Jika haram, mencoba saja tidak boleh. Fatwa majelis ulama, satu botol air terkena satu tetes alkohol saja sudah haram. Coba-coba saja tidak boleh, karena sulit berhentinya. Kepada kaum muslimin jauhilah narkoba, karena proyek ini merupakan strategi global kelompok tertentu supaya generasi muda kita hancur.

Kombinasi Home Formula (HF) berperan sebagai Obat Narkoba untuk pengobatan kecanduan narkoba. Obat Narkoba ini tidak hanya bekerja untuk mengobati sistem kelenjar syaraf namun obat narkoba ini juga bekerja untuk mengobati organ tubuh. Obat Narkoba ini merupakan hasil penemuan Prof.Dr.Diana Mossop dari Inggris. Obat Narkoba ini sebaiknya digunakan selama minimal 3 bulan pengobatan untuk pemulihan sistem syaraf dan organ tubuh. Pada bulan pertama dan kedua, Obat Narkoba ini bekerja dengan mengeluarkan racun-racun yang mengendap pada batang otak dan organ ; pada bulan ketiga, Obat Narkoba ini bekerja dengan memperbaiki sel-sel yang mengalami kerusakan.  

Jumat, 13 Mei 2011

Sejarah Ekstasi


Awal mula sejarah ekstasi ? 

Mula-mula ekstasi ini ditemukan oleh Dokter Jerman pada waktu perang dunia kedua. Tujuannya supaya serdadu-serdadu Jerman kuat, melek terus, dan agresif. Maka dalam ransumnya dibekali zat kimia bernama ekstasi. Efeknya jadi kacau balau, urat sarafnya terganggu, jadi ngaco. Mengingat hal itu, maka pada tahun 1947 penggunaan ekstasi oleh Konvensi Jenewa dilarang.
Zat ini pun tidak boleh digunakan dalam pengobatan. Setelah sekian lama, muncul lagi bentuk penyalahgunaan. Orang memakai hanya untuk bergembira ria, dan memacu semangat biar tidak tidur. Biasanya pemakainya orang-orang yang terjun di kehidupan malam tidak bisa lepas dari hal itu 

Apakah media telah berperan untuk menginformasikan narkoba ? 

Media telah memberitkan, namun harus diekspose lebih pada efek negatif dari ekstasi. Efeknya harus dijelaskan. Pada  awalnya orang hanya iseng …… Mula-mula dari pergaulan dengan mencoba sedikit demi sedikit. Kita harus sosialisasikan bahwa ekstasi dan shabu-shabu itu haram. Penegasannya ada pada dalil Al-Quran di surat Al-Maidah ayat 90-91 yang menjelaskan larangan judi, meramal-ramal nasib dan minuman keras, berikut keterangan Hadits yang menyatakan semua bahan yang melemahkan, mengganggu akal sehat dan memabukan dilarang. Hadits ini jika dispesifikan mengarah kepada ganja, ekstasi, kokain dan yang lainnya. Namun ironisnya, undang-undang terkait minuman keras tidak ada. Sejak tahun 1985 diajukan sampai sekarang tidak ada ujung pangkalnya. Itu urusan politis. Sekarang kecenderungannya jika seseorang sulit untuk mendapatkan ekstasi, maka larinya ke minuman keras. Malah dipropagandakan dalam iklan dan tayangan sinetron-sinetron. Jika dihitung tentang bahaya, sebenarnya alkohol lebih berbahaya. Pasalnya, orang yang mabuk akan langsung melakukan motif kejahatannya, sedangkan orang yang memakai nakoba biasanya untuk kepentingan pribadinya.
Hanya saja narkoba akan menyulitkan pihak keluarganya. Menurut statistik, warga Amerika yang meninggal di jalan raya akibat mabuk lebih banyak daripada jumlah serdadu Amerika yang tewas di medan perang. Orang Barat saja menyimpulkan perbuatan tersebut lebih banyak mudaratnya daripada segi manfaatnya. Padahal mereka bukan muslim. Dalam keterangan statistik lainnya dijelaskan keuntungan yang diraup bandar narkoba mencapai tujuh kali lipat dari keuntungan pemerintah. 

Kombinasi Home Formula (HF) berperan sebagai Obat Narkoba untuk pengobatan kecanduan narkoba. Obat Narkoba ini tidak hanya bekerja untuk mengobati sistem kelenjar syaraf namun obat narkoba ini juga bekerja untuk mengobati organ tubuh. Obat Narkoba ini merupakan hasil penemuan Prof.Dr.Diana Mossop dari Inggris. Obat Narkoba ini sebaiknya digunakan selama minimal 3 bulan pengobatan untuk pemulihan sistem syaraf dan organ tubuh. Pada bulan pertama dan kedua, Obat Narkoba ini bekerja dengan mengeluarkan racun-racun yang mengendap pada batang otak dan organ ; pada bulan ketiga, Obat Narkoba ini bekerja dengan memperbaiki sel-sel yang mengalami kerusakan.  

Rabu, 04 Mei 2011

Candu Narkoba menurut Prof.Dadang Hawari

Prof. Dr. dr H. Dadang Hawari dikenal sebagai sosok yang tidak asing lagi di kalangan pemerintahan, ilmuwan, agamawan, dan juga masyarakat awam. Aktifitasnya beragam, mulai psikiater, mengisi ceramah masalah kesehatan, hinga meniti karir akademisnya menjadi Guru Besar Tetap di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 

Menurut pria kelahiran Pekalongan 16 Juni 1940 ini, persoalan narkoba tidak bisa diberantas tuntas karena ada oknum internal yang turut bermain. Terkait terbongkarnya pabrik terbesar ekstasi Serang, Banten, reporter CyberMQ, Fiqi Fauzi, berhasil mewawancara beliau seputar efek narkoba dan ruang lingkup di dalamnya. Berikut kutipan wawancaranya : 

Bagaimana seseorang bisa tertarik dengan narkoba ? 

Obat itu sifatnya adiktif. Adiktif artinya membuat kecanduan, ketergantungan. Kalau orang berhenti memakai ekstasi, timbul gejala kebalikan. Jadi kalau pakai timbul rasa gembira, rasa percaya diri. Semuanya semu : semangat kerja, tidak tidur, segala macam, tapi semua itu semu. Jika berhenti mengkonsumsi akan drop, maka dia merasa tidak berguna, hilang semangat, sampai berniat
bunuh diri. Cara menghilangkan rasa sakitnya harus dengan menambah dosis lebih banyak lagi. Berawal satu tablet menjadi dua tablet terus.. terus dan terus naik. Satu minggu satu kali, namun akhirnya dua kali hingga menjadi sebuah kebiasaan. Ini akan menambah nagih terus. Akibatnya pelaku akan terganggu sistem transmisi saraf di otaknya. 

Seperti apa Klasifikasi NAPZA ? 

Bentuknya bermacam-macam. Ekstasi itu golongan amphetamine yang bisa dibuat dalam pil, yang dalam bentuk kristal (shabu-shabu), bentuk ganja (putaw) serta bentuk heroin (kokain). minuman keras pun masuk kategori narkoba. 

Kombinasi Home Formula (HF) berperan sebagai Obat Narkoba untuk pengobatan kecanduan narkoba. Obat Narkoba ini tidak hanya bekerja untuk mengobati sistem kelenjar syaraf namun obat narkoba ini juga bekerja untuk mengobati organ tubuh. Obat Narkoba ini merupakan hasil penemuan Prof.Dr.Diana Mossop dari Inggris. Obat Narkoba ini sebaiknya digunakan selama minimal 3 bulan pengobatan untuk pemulihan sistem syaraf dan organ tubuh. Pada bulan pertama dan kedua, Obat Narkoba ini bekerja dengan mengeluarkan racun-racun yang mengendap pada batang otak dan organ ; pada bulan ketiga, Obat Narkoba ini bekerja dengan memperbaiki sel-sel yang mengalami kerusakan.